Pengalaman Berkediaman di Apartemen

Pengalaman Berkediaman di Apartemen. Halah, baru 2 bulan ada di apartemen. Tetapi bedanya cukup mencolok dibanding ada di kos dan di dalam rumah, menjadi rasanya pantas untuk jadi satu website post. Maksa bodo amat.

Apartemen yang kami tempati saat ini sebetulnya kenal sama sekali. Pertama kalinya berpindah ke Jakarta, saya sebelumnya sempat menyaksikan sejumlah unit studio di sini, tetapi harga mahal dan tidak begitu dekat sama kantor.

Lantas, ada saudara ayah saya yang mempunyai unit di sini tapi alami permasalahan pembayaran, pada akhirnya unit itu dibeli oleh ayah. Maka saya cukup kerap bolak-balik kesini dan kesannya biasa-biasa saja. Ramai sekali, itu saja.

Saya merasakan demikian karena tidak ada gagasan untuk berpindah ke sini.

Saat kami memilih untuk berpindah kesini dan pertama kalinya menyaksikan unit yang hendak kami menempati (punyai rekan kami , by the way), saya baru sadar, wah, kok pintu satu sama yang lainnya dekat sekali ya? Lorongnya sempit sekali ya? Ini temboknya kok tipis sekali ya? Kenapa parkirnya becek dan aspalnya bolong-bolong ya? Dih di taman banyak perokok ya?

Kok ini gedungnya tinggi dan banyak, ada berapakah ribu orang yang ada di sini ya? Apa tidak padat sekali! Terus cukup cemas lol.

Langsung terpikirkan, “Apa kelak rasanya tidak sama punyai rumah sendiri?” Rupanya tidak dan iya.

Saya sepanjang umur sebelumnya tidak pernah ada di gang, sedangkan dahulu waktu kecil ada di gang sebentar. Di pikiran saya, ada di gang itu bising, sering berjumpa tetangga, harus banyak senyuman jika bertemu beberapaya, dan tetangga. Cukup menakutkan untuk ukuran saya yang tidak dapat senyuman standar seperti ini.

Realitanya, orang tidak perduli keduanya, hahaha, saya sukai itu. Sebagai ekstrovert yang menyukai bercakap sama orang asing tetapi malas memiara jalinan persahabatan, saya sukai ada di sini karena walaupun beberapa orang, mereka tidak perduli satu dengan lain.

Contohnya, saat menanti anak main di playground, kita cuma sama-sama senyuman dengan ibu-ibu yang lain menanti, lantas bermain HP. Tidak ada masalah kenalan atau janjian playdate selanjutnya karena hanya anak kita hebat bermain bersama. Tidak ada kewajiban merasa ramah dan berbasa-basi karena kita tetangga satu tower. Hahaha.

Disamping itu, saya suka karena banyak ekspatriat di sini hingga anak saya terlatih menyaksikan beragam ras

Dan bermain-main dengan beberapa anak mereka. Benar-benar, terkadang saya merasakan seperti pada Singapura. Di warung kopi, kita dapat menyaksikan beragam berkebangsaan, dimulai dari kaukasian, orang Arab dengan gamis, orang Cina dataran yang cuma bicara bahasa Cina, sampai orang Wakanda (maafkan stereotyping ini).

Karena sangat tidak pedulinya, tidak ada catcalling benar-benar! Atau minimal saya sebelumnya tidak pernah mendengar. Walau sebenarnya banyak lelaki yang tidak terang dan banyak pula wanita yang pakaiannya terbuka. Di dalam rumah, kalian sukai gunakan tank hebat dan hot pants yang kumel, kan? Atau daster tidur yang kusam?

Nach, rupanya mode pakaian semacam itu dipandang beberapa orang pantas digunakan di teras rumah mereka. Nach, di apartemen tidak ada teras, menjadi ya digunakan saja disekitaran halaman mall apartemen dan tower. Ingat ya, manusia itu berbeda dan berbeda itu tidak apa-apa.

Banyak pula yang menggunakan hijab panjang. Apa menjadi menyapa? Tidak juga. Cuma ada banner di luar yang tertulis “dilarang kenakan pakaian tidak pantas “.Sumpah, saya ngakak cocok pertama kalinya baca. Mungkin banner itu terpasang karena menyapa secara langsung dapat membuat berantem, menjadi diharap kesadaran masing-masing.

Apalagi ya. Pengalaman Berkediaman di Apartemen

Segala hal berada di sini. Ingin jajan apa, semua ada. Ke apotek tinggal turun, ATM depan pintu, galon dan gas tinggal WhatsApp langsung ada di depan pintu rumah. Banyak yang berjualan tajil, makanan berlimpah, tukang bersihkan sneakers ada (penting), toko grosir untuk membeli beras dan telur ada, toko buah ada, apa ada.

Apa menjadi boros? Malah justru lebih hemat! Karena menjadi jarang-jarang ke mall. Seluruh keperluan saat ini dapat dicapai jalan kaki. Benar-benar love!

Negatifnya satu: bising. Karena kiri kanan atas bawah kita ada keluarga yang tinggal , suara dapat darimanakah saja. Jika ada di rumah, suara hanya dari tetangga kiri kanan jika mereka kembali memaku dinding misalnya. Tetapi di apartemen, atas bawah kanan kiri serong kiri kanan ada manusia semua, ada yang geser bangku kepentok dinding saja kedengeran.

Satu kembali saya cukup insecure karena dahulu pintu kos selalu gunakan kunci gembok tambahan. Pintu rumah apalagi, pagar dikunci, pintu digembok. Iya sich dahulu tidak punyai security yang menjaga 24 jam, tetapi saat ini rasanya pintu rumah hanya digembok saja tuh…

Ya, yang dapat naik dan punyai akses ke lantai kami hanya sama-sama tetangga satu lantai sich, tetapi apa tetangga satu lantai dapat dipercayai? Ini nih permasalahan kepercayaan issues.

Sementara itu dulu. Bagaimana rasanya tidak menginjak bumi? Biasa-biasa saja. Tetapi satu kali lagi, tolong tulis karena anak saya telah besar dan tidak eksploitasi lagi. Jika ia tetap merayap atau jalan tidak pasti arah, kasihan rasanya. Dan kami di dalam rumah cuma malam saja, menjadi ya so far so good.